banner

“SEBELUM NGEBINI, HARUS SIAP NGEBINA”

Written by

Someone said, sebelum ngebini harus sudah siap ngebina..
.
Dan sebelum ngebina orang lain, sudah harus bisa mbimbing diri sendiri dulu..
.
Dan untuk membimbing diri sendiri, perlu acuan / petunjuk dan juga latihan..
.
Terkait acuan / petunjuk, kita semua rasanya tahu dimana mendapatkannya..
.
Terkait latihan, diperlukan komitmen, ketekunan dan juga konsistensi, dan itu perlu dilakukan setiap hari..

Sebab, membangun rumah tangga itu bukan perkara yang main-main (based on someone who has givva me a lot of insight regarding to marriage)..
.
Itu bukan sesuatu yang bisa kita anggap, “halah, kalau dengan yang ini gagal, nyari lagi lah, kan wanita banyak, proyeksi kedepan kan perbandingan wanita bakal lebih banyak daripada laki-laki”, atau “kalau dengan yang ini gagal, ceraikan aja, coba lagi dengan yang lain”..NO, thats a stupid mindset (based on has been taught to me)..
.
Sekali kamu terikat dalam janji suci, semua keputusan, pertimbangan, kebijakan dan segala hal lainnya terkait pernikahan atau rumah tangga harus didasarkan pada ketentuan Ilahi, dan kita harus selalu berasaha taat dan mematuhinya dengan segenap hati..
.
Kita tidak bisa “taat” pada dorongan emosi negatif maupun nafsu yang justru bisa membawa kita pada ketidakefisian hidup suatu saat nanti..
.

Pernikahan atau rumah tangga itu bukan tujuan utama..
.
Ia hanya sebuah sarana..
.
Yakni sarana untuk mendapatkan tujuan utama dari hidup masing-masing anak manusia, yakni “surga” dan juga keridhoanNYA..
.
Ya, itu hanya sebuah sarana..
.
Kita bisa menganalogikannya dengan sebuah mobil..
.
Mobil yang kita pakai untuk sampai pada suatu tujuan didepan sana..
.
Dan sebagai pengemudi mobil tersebut, kita harus kompeten dan cakap dalam mengemudikannya..
.
Sebab jika kita tidak “layak” dan tidak cakap, maka akan sangat berpotensi terjadi kecelakaan..
.
Dan masalahnya, jika terjadi kecelakaan, bukan hanya kita saja yang akan mendapatkan dampaknya..
.
Tapi juga rombongan yang kita bawa, yakni istri dan anak kita..

Ada berapa banyak peristiwa atau kejadian yang kita lihat dimana ada begitu banyak “kendaraan” yang mengalami “kecelakaan”..
.
Sepertinya, itu terjadi seolah-olah hampir setiap bulan..
.
Oh bukan, mungkin malah setiap hari, hanya beberapa kecelakan memang tidak masuk dalam pemberitaan..
.
Puluhan, ratusan atau mungkin ribuan korban baru terjadi setiap hari..
.
Beberapa korban kecelakaan itu mungkin tidak mengalami luka fisik, tapi mereka mengalami luka hati..
.
Dan luka jenis ini nampaknya akan sangat lama sekali untuk disembuhkan..
.
Dan kita mendapati ada begitu banyak dari korban kecelakaan yang akhirnya teratung-atung dalam jalan, berjalan sambil dipenuhi isak tangis dan berjalan kesana kemari, sembari menggendong anak mereka dalam ayunan..
.
Mereka kecewa, mereka bingung, mereka bimbang, mereka terluka dalam suatu ruas jalan dan tidak tahu harus melangkah kemana..
.
(Note : Ada alasan kenapa ALLAH meminta kita untuk peduli pada teriak dan isak tangis janda dan juga anak yatim, anak yang tidak mendapatkan perhatian ayahnya yang masih dalam “usia perlu perhatian”)

Sebagai seorang pengemdi, selain harus bisa menyetir dan “tahu haluan”..
.
Kita juga harus bisa memastikan atau mempertimbangkan bahwa “bensin” dari kendaraan kita sudah cukup memadai untuk perjalanan..
.
Itulah seorang pengemudi yang baik..
.
Dan bijak..
.
Sebab tanggung-jawab keselamatan dan keamanan dari rombongan yang kita bawa ada pada kita..
.
Bisa dikatakan, ketika seorang wanita (wanita salihah) mau dan bersedia untuk kita “bawa masuk” dalam kendaraan kita dan kita bonceng dia, dia sudah percaya untuk “menyerahkan” keselamatan dan keamanan hidupnya pada kita..
.
Saya yakin mereka tidak seperti seseorang yang sedang bertaruh dimana tidak ada pertimbangan yang jelas..
.
Mereka mau kita bonceng karena mereka sudah percaya kita dengan hati mereka..

Ya, sebagai seorang pengemudi, kita harus tahu “haluan”..
.
Dan juga harus tahu kapan ngegas, kapan ngerem, dan kapan ngopling dan juga mengendalikan kendaraan secara keseluruhan..
.
Ketika mau belok, kita juga harus tahu seberapa besar kita memutar steer, atau berapa putaran yang diperlukan..
.
Intinya kita harus tahu bersikap sesuai dengan keadaan..
.
Selain tentunya bisa “menempatkan sesuatu pada tempatnya”, serta berupaya agar penuh dengan kebijaksanaan, baik dalam ucapan maupun tindakan..
.
(Berkenaan saya belum rabi, meski timelinenya sudah saya planning dan rencanakan serta saya bawa dalam doa kepada DIA yang merancangkan hidup setiap anak manusia, baris ini kebawah saya tulis berdasar apa yang sudah saya dapatkan, untuk pembelajaran)
.
Pun dalam “mengemudikan rumah tangga”..
.
Dan juga dalam memperlakukan wanita..
.
Sebagai calon kepala keluarga, kita haruslah menjadi bijaksana..
.
Misalnya..
.
Terkadang, ketika wanita berbicara, atau bercerita, perihal keluh kesahnya..
.
Cukup kita dengarkan saja, dengan penuh perhatian yang terpusat kepadanya..
.
Jangan menyela, jangan mengkritisi, bahkan jangan memberi solusi, KECUALI, memang diminta..
.
Terlebih, jangan mengatakan, “kamu salah kalau kayak gitu dek, yang benar seperti ini lo”, meski hanya sekali saja..
.
Terkadang, wanita itu hanya perlu didengarkan..
.
Dan perasaannya ditenangkan, ditentramkan, didamaikan, disejukkan, hingga dia merasa aman, dan juga nyaman..
.
Dalam beberapa kasus, mendengarkan dengan penuh perhatian itu lebih penting daripada memberi solusi atau penyelesaian..
.
Ya..
.
Hal-hal semacam itu yang mungkin tidak kita sadari..
.
Tentu itu hanya contoh sederhana dari banyaknya hal yang perlu pahami sebelum kita secara real harus ngebina bini..
.
Sekali lagi, mengerti “haluan”, maupun bisa bijak bersikap sesuai keadaan, sangatlah penting untuk dipahami, dan dilatih sejak saat ini..
.
Tentu, mempelajari buku manual mobil tidak serta merta akan membuat kita menjadi pengemudi yang ahli..
.
Namun akan sangat berbeda mereka yang sebelumnya sudah mempelajari, yang sudah tahu mana gas, mana rem dan mana kopling, yang sudah tahu elemen pada sistem kemudi mobil, dengan mereka yang sebelumnya tidak tahu sama sekali..
.
Dan hal-hal semacam ini dipelajari, dan dipahami, justru SEBELUM kita membawa ” kendaraan” secara real di “jalan raya”..
.
BUKAN ketika kita sedang mengemudikannya..
.
Sebab, sangatlah tidak efisien, dan tidak bijak, ketika kita sudah mengemudikan “kendaraan” kita secara real di “jalan raya”, tapi kita masih tahap membaca buku manualnya, itupun hanya di awalnya saja..
.
Alhasil, potensi kecelakaan bisa sangatlah besar terjadi pada kita, dan pada rombongan yang kita bawa..
.
_________________________________

Follow : @parapejuangsejati (fp) | Visit : www.parapejuang.com
.
Anwar Bastomi
fb : @anwarbastomi.thefighter | insta : @anwar_technopreneur
Tagged on : #ayoberjuang #for_becoming_a_better_fighter

 

Silakan dishare untuk baca-baca lagi nanti atau untuk berbagi kebermanfaatan jika memang menurut Anda artikel ini bermanfaat agar kita semua bisa menjadi saluran kebaikan.

  • Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, terimakasih jika sudah mau share agar semakin bisa bermanfaat bagi semakin banyak orang. Menjadi saluran kebaikan dan kebermanfaatan tidak akan pernah merugikan kita, malah kita akan mendapatkan kebaikan darinya, dan dari Yang Memiliki Segala Kebaikan
  • Jika Anda tergerak untuk menjadi penulis atau berbagi sesuatu yang bisa bermanfaat bagi lainnya di www.parapejuang.com, silakan klik link berikut. Ingat, hal-hal kecil jika dibagikan secara tulus hati dan konsisten niscaya mampu membawa dampak besar.
  • Mari berjuang untuk ptibadi yang lebih baik, keluarga yang lebih baik, masyarakat yang lebih baik dan bangsa yang lebih baik.

 
About Writer :

Hanya ingin menjadi anak yang baik, calon suami (dan ayah) yang baik dan hamba yang baik. Sebab, peran kita di dunia ini minimal melingkupi 3 hal diatas : peran sebagai seorang anak, peran sebagai seorang suami (dan ayah) dan peran sebagai seorang hamba.

Tagged on : #ayoberjuang #for_a_sweeter_family #for_to_be_a_better_men #untuk_menjadi_calon_imam_yang_baik


Browse Another Article at : #SpiritualDevelopment | #PersonalDevelopment | #FamilyDevelopment

 
Article Categories:
Para Pejuang Keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *