banner

Lets Get A Higher Level !

Written by

Menjalani kehidupan ini sama halnya ketika kita bermain game : fase yang lebih tinggi membutuhkan kapabilitas dan kapasitas diri yang lebih tinggi pula. Sebab, kita tahu bahwa fase yang lebih tinggi, tantangan yang dihadapi juga akan lebih besar, dan juga lebih banyak.
.
Sama halnya dengan pernikahan, kapasitas dan kapabilitas kita untuk menjalani level ini tidak bisa sama (dan tidak boleh sama!) dengan kapasitas dan kapabilitas kita ketika kita masih bujang.
.
Again, menjalani pernikahan sama halnya dengan kita bermain game : level semakin tinggi menuntut keahlian penyelesaian masalah yang lebih tinggi pula.
.
“Jadi kamu mau menyamakan pernikahan dengan sebuah permainan game ?”
.
…………………..
.
Maaf, saya ralat, Anda benar, kita tidak bisa menyamakannya.
.
Pernikahan tidak sama dengan bermain game !. Berbeda halnya dengan bermain sudoku, dalam pernikahan nanti, kita tidak bisa seenaknya ‘menyerah’ ketika tantangan atau permasalahan yang dihadapi begitu sulit yang membuat kita berpikir ‘seolah-olah tidak bisa diselesaikan’.
.
Kita tidak bisa ‘seenaknya mengambil keputusan’ dan berpikir, “halah, nanti kalau salah kan bisa diulang lagi, mengulang prosesnya dari awal lagi kan bisa – kawin lagi”.
.
Kita tidak bisa berpikir seperti itu, tidak !.
.
Kita juga tidak bisa menggantungkan ‘jumlah nyawa kita’ seperti halnya dalam bermain game, dan berpikir, “nanti kalo dengan yang ini salah, kan masih punya jatah untuk kawin lagi. Atau susah-susah amat, nanti kan bisa cerai terus kawin lagi”.
.
Bagi saya, hanya orang tolol yang memiliki mindset system seperti itu.
.
Entah bagaimana dengan Anda, tapi saya orang yang punya prinsip monogami. Sedari dulu prinsip saya adalah pacaran satu kali, menikah satu kali dan sekali menikah tidak boleh cerai. PLUS, pacaran pun HARUS setelah menikah (prinsip setelah 2013).
.
Dan hingga detik ini, thanks to GOD saya masih diilhami untuk memiliki prinsip seperti itu, dimulai dengan menjaga diri untuk tidak pacaran.
.
…………………..
.
Oh ya, tahukah Anda jika kita diberi otoritas, free will, termasuk dalam memilih siapa pasangan kita kelak* ? Ya, memang ada beberapa hal yang diluar kontrol kita, seperti kita tidak bisa memilih siapa ayah atau siapa ibu kita yang sudah melahirkan kita di masa lampau, atau juga kita tidak bisa memilih siapa anak yang akan lahir dari kita kelak, BUT, kita diberi kehendak bebas untuk memilih siapa pasangan kita.
.
Dan karena itu adalah pilihan kita sendiri, maka bertanggung-jawablah atas pilihan itu. Sebab kita akan diminta pertanggung-jawabannya kelak. (#selfreminder)
.
Oke, kembali kepada pikiran tolol “halah, nanti kalau salah kan bisa diulang lagi, mengulang prosesnya dari awal lagi kan bisa – kawin lagi”. Kehidupan adalah sebuah perjalanan satu arah YANG tidak ada putar baliknya dan tida bisa diputar ulang. Waktu berjalan linier, dan sekali sudah berjalan atau sudah lewat, tidak bakal bisa diulang atau diputar balik, betapapun kita berdoa 26 jam sehari kepada TUHAN ! (saya tidak mau berdebat tentang fisika quantum atau hukum relativitas Einstein).
.
Dan karenanya, setiap detik yang kita lewati begitu berharga. Setiap langkah begitu berarti, dan jangan sampai kita menempuh perjalanan ini dengan orang yang salah !.
.
…………………..
.
Oke, sekarang mari kembali ke pernyataan “Berbeda halnya dengan bermain sudoku, dalam pernikahan kita tidak bisa seenaknya ‘menyerah’ ketika tantangan atau permasalahan yang dihadapi begitu sulit yang membuat kita berpikir ‘seolah-olah tidak bisa diselesaikan’.
Ketika seorang programmer menyusun sebuah system, saya kira mereka akan memastikan bahwa algoritma system tersebut tidak menyimpang dari fungsi kontrol user.
Sama halnya dengan orang yang sudah menciptakan game, saya yakin bahwa game tersebut dibuat untuk bisa diselesaikan, dari level 1 hingga level akhir. Sejauh ini saya belum menemukan game yang dirancang dan dibuat untuk tidak bisa diselesaikan. Kalau pemain yang tidak bisa menyelesaikan hingga akhir, banyak. Tapi perlu dicatat, dia tidak bisa menyelesaikan game tersebut bukan karena tidak ada solusi atas permasalahan yang sedang dihadapinya sesuai level yang dijalaninya, tapi lebih karena dia tidak tahu solusi untuk memecahkannya, mungkin karena kurang pengetahuannya, kurang kapasitas dan kapabilitasnya, atau mungkin karena dia cepat menyerah, and so on.
Tapi yang pasti, pasti ada solusinya untuk menyelesaikan masalah pada level tersebut, hanya dia belum mengetahuinya, atau dia menyerah duluan sebelum ketemu solusinya.
.
…………………..
.
Dalam pernikahan, kita bisa menggunakan mindset system yang sama.
Menurut Anda, Siapa yang merancang konsep tentang pernikahan ?
[Perlu dicatat dan digaribawahi dalam otak kita bagian korteks, bahwa ‘majelis’, persatuan (or whatever u call it) pertama kali yang dibuat TUHAN untuk umat manusia adalah bersatunya antara laki-laki dengan perempuan, dibekali dengan visi serta misi yang jelas, untuk menjadi khalifah, imam yang merajai, memerintah atas apa yang ada dalam taman Aden] Dan tahukah kita bahwa ‘persatuan’ itu, literally, memang berasal dari ‘kesatuan’ ? Tahukah kita bahwa perempuan, secara harfiah, adalah bagian dari laki-laki, ditujukan bukan hanya untuk satu tubuh (setubuh), tapi juga untuk ‘satu pikiran’ dan satu hati ?
“Tapi kan tidak mungkin menyamakan pikiran dua individu, untuk benar-benar sama plek ?”
.
Saya setuju. Saya mengatakan ‘kesatuan pikiran’, bukan ‘kesamaan pikiran’ dan saya sudah membahas perspektive saya terkait hal ini pada catatan yang lain (tentunya untuk pengingat diri sendiri, dan mungkin bisa bermanfaat untuk anak-anak yang usianya di bawah saya).
.
…………………..
.
Fine, back to this quesy : Siapa yang merancang konsep tentang pernikahan ?
Saya yakin DIA Yang Maha Bijak dan Yang Maha Kasih tidak akan merancang suatu hal yang tidak bisa diselesaikan oleh umatNYA. DIA memberikan solusi atas setiap level kehidupan kita, hingga level akhir yang memang harus kita selesaikan, untuk mendapat medali kemenangan dariNYA : firdaus.
Jika kita tidak bisa menyelesaikannya, bukan berarti tidak ada solusi atas permasalahan tersebut. Kita hanya belum mengetahuinya, ATAU kita sudah menyerah duluan sebelum menemukan formula yang tepat untuk menyelesaikannya.
Sebagai tambahan, akan lebih mudah jika kita membaca buku panduan ‘bagaimana cara mainnya’ serta belajar ‘cheat-cheat’ tertentu. Saya rasa akan sangat jauh lebih efisien ketika kita tahu panduan-panduannya atau tahu trik-trik atau strategy tertentu.
.
Dan saya rasa kita semua tahu dimana kita bisa mendapatkan ‘petunjuk’ atau ‘panduan’ tentang bagaimana menjalani ‘permainan kehidupan’ ini ?
.
Bagaimana menurut Anda ?
.
[…to be continued…] .
—————————–
*Terkait pernyataan “kita diberi otoritas, free will, termasuk dalam memilih siapa pasangan kita kelak” pastinya banyak orang yang tidak akan setuju. Sebab, jodoh ada di Tangan TUHAN, bukan ??
.
Ya, i DO agree bahwa jodoh ada di Tangan TUHAN, 100% agree, but i m gonna explain what i mean above, later. You dont hafta agree with me, and i dont ask for your agreement. But lemme explain it to ya first…
—————————–
.
Anwar Bastomi | @anwarbastomi.thefighter | @anwarbastomispirit | @anwar_technopreneur
Tagged on : #ayoberjuang #for_a_sweeter_family #for_to_be_a_better_men #untuk_menjadi_calon_imam_yang_baik

Silakan dishare untuk baca-baca lagi nanti atau untuk berbagi kebermanfaatan jika memang menurut Anda artikel ini bermanfaat agar kita semua bisa menjadi saluran kebaikan.

  • Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, terimakasih jika sudah mau share agar semakin bisa bermanfaat bagi semakin banyak orang. Menjadi saluran kebaikan dan kebermanfaatan tidak akan pernah merugikan kita, malah kita akan mendapatkan kebaikan darinya, dan dari Yang Memiliki Segala Kebaikan
  • Jika Anda tergerak untuk menjadi penulis atau berbagi sesuatu yang bisa bermanfaat bagi lainnya di www.parapejuang.com, silakan klik link berikut. Ingat, hal-hal kecil jika dibagikan secara tulus hati dan konsisten niscaya mampu membawa dampak besar.
  • Mari berjuang untuk ptibadi yang lebih baik, keluarga yang lebih baik, masyarakat yang lebih baik dan bangsa yang lebih baik.

 
About Writer :

Hanya ingin menjadi anak yang baik, calon suami (dan ayah) yang baik dan hamba yang baik. Sebab, peran kita di dunia ini minimal melingkupi 3 hal diatas : peran sebagai seorang anak, peran sebagai seorang suami (dan ayah) dan peran sebagai seorang hamba.

Tagged on : #ayoberjuang #for_a_sweeter_family #for_to_be_a_better_men #untuk_menjadi_calon_imam_yang_baik


Browse Another Article at : #SpiritualDevelopment | #PersonalDevelopment | #FamilyDevelopment

 
Article Categories:
Para Pejuang Keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *