banner

“KEDEWASAAN, USIA, DAN KAPABILITAS DALAM MENGEMUDIKAN BAHTERA” [PART 1]

Written by

Sebelumnya saya sharing bahwa,
.
Masalah besarpun, jika dihadapi oleh dua orang yang dewasa, niscaya akan ditemukan jalan keluarnya, dan ditemukan solusinya tanpa harus saling berdebat dan menyalahkan..
.
Namun..
.
Masalah sepelepun (kecil), jika dihadapi oleh dua orang yang tidak dewasa dan tidak bijaksana, maka tetap tidak akan ditemukan solusinya, yang ada malah hanyalah saling menyalahkan, bukannya mem-benar-kan satu sama lainnya..
.
Dan sialnya, celakanya, gak beruntungnya, tidak sedikit (mungkin banyak) mereka yang masuk dalam pernikahan namun belumlah dewasa..
.
………………………..
.
Saya disini tidak sedang berbicara tentang usia or umur ya..
.
I gak peduli orang menikah umur berapa, mau umur 17 kek, mau umur 20 kek, mau umur 25 kek, mau umur 30 kek, mau umur 32 kek (kayak orang yang memberi mindset saya banyak terkait pernikahan), mau umur 35 kek, umur 37 kek (kayak kenalan saya), umur 40 kek, itu urusan yu masing-masing..
.
Anda memiliki alasan Anda sendiri-sendiri kenapa Anda melakukan sebagaimana yang Anda lakukan, dan saya tidak mau mengintervensi itu..
.
Ya, Anda memiliki pertimbangan Anda sendiri kenapa memilih untuk membuat keputusan ini, or keputusan itu, or keputusan ite, dan hingga saya menjadi diri Anda, saya gak akan pernah bener2 bisa mengerti dan memahami alasan atas keputusan yang Anda ambil..
.
Setiap orang memahami sesuatu menurut persepsi mereka masing-masing, termasuk saya, jadi konyol kalau saya merasa tahu segala hal tentang Anda padahal saya tidak mengalami apa yang Anda alami, saya tidak mengetahui apa yang Anda ketahui, saya tidak tahu seluk beluk tentang Anda, tentang latar belakang Anda, tentang perjalanan hidup Anda. Intinya saya tidak tahu 100% tentang Anda. Tahupun, mungkin itu layer paling atasnya saja (kulitnya saja).
.
So, kalaupun saya mencoba mengintervensi Anda, or menilai2 Anda, or mengatur2 Anda, or merasa tahu tentang Anda, do NOT “listen” to me, sebab sekali lagi, orang memahami segala sesuatu (termasuk memahami orang lain) menurut persepsi mereka masing-masing, dan kadang persepsi mereka sangatlah bias, atau sudut pandangnya tidak menyeluruh.
.
Dan kalau saya membuat pernyataan “jek umur belasan or 20 puluhan kok wes rabi”, you need not to listen to me.
.
Sekali lagi, saya disini tidak sedang berbicara tentang usia or umur..
.
………………………..
.
BUT, saya ulangi, BUT, tak ulangi lagi, BUT !, yang kita permasalahkan disini adalah kedewasaan..
.
Kembali lagi ke topik utama..
.
Sialnya, tidak sedikit (mungkin banyak) mereka yang masuk dalam pernikahan namun belumlah dewasa..
.
Dewasa gak berbicara tentang usia..
.
Dan terkadang, kedewasaan itu tidak berbanding lurus dengan usia..
.
Ada laki-laki yang sudah berumur 30 tahun, tapi sifatnya masing kayak anak belasan tahun : suka / gila maen game* (maaf, tak jelaskan nanti, gak semua yang main game itu kekanak-kanakan, – saya gak mau ngintervensi gamer), gila pengakuan dll dll..
.
Ada laki-laki yang usianya 40an tahun, tapi masih seperti anak kecil : suka menuntut (entah istri atau anaknya), kalo keinginannya gak dituruti nggondok (dan marah2), maunya dituruti selalu, gak bisa berempati dan memahami lan sapinunggalane..
.
Tapi ada juga anak yang usia 20an tahun, tapi mindset dan pola pikirnya kayak orang usia 30an tahun..
.
Ada lagi orang yang usia 30an tahun, tapi sifat, sikap dan karakternya kayak orang usia 45an tahun..
.
Sekali lagi, terkadang, kedewasaan itu tidak berbanding lurus dengan usia..
.
Usia fisik beda dengan usia psikis..
.
………………………..
.
Oke, next..
.
Someone said, “mereka yang masuk dalam pernikahan namun belumlah dewasa, kita sama-sama tahu kemana nanti arahnya”..
.
Ya, mungkin yang dimaksud adalah percekcokan, saling menuntut, saling menyalahkan, dan akhirnya perceraian..
.
(Catatan : saya gak mau menghakimi atau “nyinyiri” orang yang pernah melakukan perceraian. Perceraian itu, just like someone said, banyak faktornya : bisa dari pihak pria penyebabnya, bisa dari pihak wanita, atau karena faktor lainnya. Disini saya tidak mau membahas tentang itu dan saya sadar tidak punya kapasitas tentang itu, Saya hanya ingin berbagi tentang apa yang sudah saya dapat untuk pembelajaran saja. Mohon maaf jika dianggap “mengintervensi”. Ingat, orang berbicara berdasarkan persepsi mereka masing2. Hanya kalau dari saya sendiri, perceraian is a “no thingy”. Harus berjuang sebisa mungkin dan bener2 berdoa agar DIA yang memberi petunjuk terkait pasangan – dia yang bener-bener ngerti tujuan dari sebuah rumah tangga -untuk beribadah dan tidak sekadar untuk “mainan” saja -).
.
Makanya ada beberapa teman saya (dua orang usianya seumuran dengan saya dan lainnya diatas saya semua, dan mereka sudah menikah semua sih) yang mengatakan bahwa di KUA itu orang-orang yang paling banyak mengajukan gugatan cerai itu adalah pasangan-pasangan muda (pasangan yang menikah di usia muda)..
,
Dan salah satu temen deket saya pernah mengatakan kalau dia pernah diberitahu pak modinnya kalo ada banyak pasangan yang mengajukan gugatan cerai di setiap harinya, dan majority of them adalah pasangan muda..
.
Sekali lagi, saya gak sedang membahas tentang usia ya disini (tak jelaskan nanti lebih detailnya..)
.
………………………..
.
Tapi kalau saya punya adik kandung (laki2 maksudnya), saya akan sangat menyarankan kepada dia untuk tidak menikah muda (usia 20an).
.
“Lah, gimana seh, katanya kedewasaan gak ada kaitannya dengan usia..??”
.
Oke, saya akan menjelaskannya habis ini..
.
[..to be continued..] .
Surabaya
Jumat, 04 Juli 2020
.
*Note : This sharing doesnt end yet.. please fogimme if i made wrong dictions or made you missundertood with my choice of words..

Silakan dishare untuk baca-baca lagi nanti atau untuk berbagi kebermanfaatan jika memang menurut Anda artikel ini bermanfaat agar kita semua bisa menjadi saluran kebaikan.

  • Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, terimakasih jika sudah mau share agar semakin bisa bermanfaat bagi semakin banyak orang. Menjadi saluran kebaikan dan kebermanfaatan tidak akan pernah merugikan kita, malah kita akan mendapatkan kebaikan darinya, dan dari Yang Memiliki Segala Kebaikan
  • Jika Anda tergerak untuk menjadi penulis atau berbagi sesuatu yang bisa bermanfaat bagi lainnya di www.parapejuang.com, silakan klik link berikut. Ingat, hal-hal kecil jika dibagikan secara tulus hati dan konsisten niscaya mampu membawa dampak besar.
  • Mari berjuang untuk ptibadi yang lebih baik, keluarga yang lebih baik, masyarakat yang lebih baik dan bangsa yang lebih baik.

 
About Writer :

Hanya ingin menjadi anak yang baik, calon suami (dan ayah) yang baik dan hamba yang baik. Sebab, peran kita di dunia ini minimal melingkupi 3 hal diatas : peran sebagai seorang anak, peran sebagai seorang suami (dan ayah) dan peran sebagai seorang hamba.

Tagged on : #ayoberjuang #for_a_sweeter_family #for_to_be_a_better_men #untuk_menjadi_calon_imam_yang_baik


Browse Another Article at : #SpiritualDevelopment | #PersonalDevelopment | #FamilyDevelopment

 
Article Categories:
Para Pejuang Keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!