banner

Saling Menasihati, Bukan Saling Mengintervensi

Written by

Saya hampir tidak pernah meminta saran atau nasihat kepada orang lain perihal apa yang harus saya lakukan, untuk aspek-aspek tertentu.
.
Bukan, bukan karena saya sok-sokan atau sombong.
.
Tapi justru sebaliknya. Karena saya hanya merasa beberapa orang yang saya temui (you can say majority of them) yang justru sombong, yang merasa tahu keseluruhan diri saya, yang merasa tahu detail perjalanan hidup saya, yang merasa tahu saya secara menyeluruh, pokoknya merasa tahu segala hal tentang saya.
.
Ada malah, yang tanpa saya mintai saran atau nasihat, malah nylonong masuk sendiri, merasa tahu segala hal tentang saya dan kok kayak menganggap saya ini budaknya (hambanya). Saya gak ngomong orang semacam itu banyak atau sedikit, saya hanya bilang ada orang yang maen nylonong sok-sokan tahu keseluruhan atas hidup kita tanpa kita mintai saran atau pendapat.
.
…………………………
.
Ya, saya merasa beberapa dari mereka begitu sombong, merasa tahu segala hal tentang saya, sehingga merasa memiliki otoritas untuk ngatur-ngatur hidup saya, begitu sombongnya sehingga merasa berhak menggantikan peran TUHAN, merasa memiliki wewenang untuk menentukan arah hidup saya serta menetukan saya harus berbuat ini atau berbuat itu.
.
Dan jika saya tidak menurutinya, lantas ia serta merta menganggap saya bebal dan mokong.
.
Jika saya tidak menurutinya, ia akan marah dan seolah-olah menganggap saya sebagai pribadi yang sangat hina.
.
Saya merasa seolah-olah ia menganggap saran atau nasihat (pernyataan) yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran mutlak, wes pokoke seng paling bener, gak mungkin ada seng lebih bener dari mulut orang lain, persepective lain selain dari otaknya adalah kesalahan atau ketidak-tepatan atau kegoblokan pola berpikir dan karenanya, perkataan atau pertanyaannyalah yang harus saya turuti.
.
…………………………
.
Saya sendiri tidak pernah mau mengintervensi orang lain secara personal yang membuat mereka tidak nyaman.
.
Bahkan kalau saya ngasih saran atau nasihat, saya berusaha belajar, dengan sangat, untuk menyusun kalimat sedemikian rupa agar orang yang saya beri saran menjadi tidak antipati karena kesalahan saya dalam memilih kata atau dalam cara saya menyampaikannya.
.
Ingat, tujuan baik jika disampaikan menggunakan diksi yang salah, atau cara penyampaian yang salah, atau disampaikan pada waktu yang salah, maka hal tersebut bisa diterima secara salah orang lain.
.
Eman-eman kan, tujuan kita baik tapi diterima secara buruk hanya karena cara menyampaikan kita yang buruk.
.
Eman-eman, sesuatu yang seharusnya untuk hal yang baik, malah bisa membuat perasaannya semakin buruk, dan hubungan silaturahmi juga semakin buruk.
.
…………………………
.
Karenanya, dulu saya ketika diajak sharing sama beberapa orang (mantan anak les saya), saya sebisa mungkin tidak menempatkan saya sebagai orang yang mengintervensi mereka.
.
Saya akan memberikan pertanyaan di awal, yang kurang lebih seperti ini,
“Apa yang saya omongkan nanti mungkin benar mungkin salah. Jukuen wae seng menurutmu baik dan apa yang menurutmu jelek gak usah diambil. Aku juga manusia yang banyak salahe juga. Aku hanya berbagi pengalaman uripku. Sedangkan kita memiliki perjalanan hidup masing-masing, spesifik sesuai jalur hidup yang sudah masing-masing kita jalani, tidak sama dan tidak akan pernah sama. Bahkan aku karo masku seng dari ibu yang sama, sususan DNAne juga gak jauh beda, mendapatkan pendidikan keluarga sama, melewati masa kecil pada kondisi masyarakat yang sama, itu aja beda e. Apa yang membuatku merasa berhak menuntut kalian harus memiliki pemikiran yang sama plek dengan aku. Bahkan sesuatu hal yang bernilai ‘benar’ bagiku, bisa jadi itu bernilai ‘salah’ bagimu. Numbuk padi beda caranya dengan numbuk jagung, dan TUHAN tahu itu. Makanya, prioritas utama dan pertama yang harus kami jadikan acuan tetep ngongo,o dan tanyak.p ndek TUHAN sendiri”.
.
Saya biasanya mengawali sharing saya dengan pernyataan tersebut. Jadi sudah saya skak diawal bahwa semua hal yang saya sampaikan tidaklah selalu benar, dan bahkan jika itu baik diterapkan saya, belum tentu hal tersebut baik diterapkan kepada mereka, sebab karakter masing2 dari kita memang berbeda. Ingat, sekali lagi, numbuk padi beda caranya dengan numbuk jagung. Setiap orang memiliki kondisi hidup, jalur hidup dan perjalanan hidup yang berbeda-beda, so, tidak bisa disamakan (Dan atas dasar apa juga Anda merasa bisa dan berhak menyamakan setiap orang ???)
.
…………………………
.
Ya, saya tidak mau lancang masuk ke “sudut-sudut kamar” rumah orang lain.
.
Saya ibaratkan kehidupan seseorang itu seperti sebuah rumah. Kalau saya ada diterasnya, okelah. Kalau saya masuk ke ruang tamunya, masih oke juga lah, setelah saya sebelumnya mengetuk pintunya,
.
Tapi kalau saya sudah lancang masuk ke ruang keluarga, atau ruang makannya, atau dapurnya atau BAHKAN area privasinya (kamar tidurnya mungkin), tanpa seizinnya atau tanpa diajak terlebih dahulu, maen nylonong aja ubek2 sudut2 kamarnya yang seharusnya tamu seperti saya memang tidak selayaknya masuk seenaknya, ya iku wes goblok saya…gak sopan, gak tahu etika dan gak punya attitude !
.
Area privasi seseorang adalah miliknya. Hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk dan menatanya. Jika orang itu belum menikah, ibunya lah yang boleh masuk dan punya hak untuk “mengatur kamarnya”. Jika ia sudah menikah, HANYA istri (atau suami kalo kamu cewek) yang boleh masuk dan turut “menata perkakas kamarnya”.
.
Lantas kalau ada orang luar nyolong masuk gak sopan ke area tertentu atas kehidupan kita gimana ?
.
Ya, jangan salahkan orang itu jika justru ia tidak menaruh respect pada Anda. Jangan salahkan dia kalau dia gak ngundang Anda lagi masuk kedalam rumahnya (sudut-sudut hidupnya), la wong Anda tidak punya sopan dan etika gitu.
.
Bahkan kalau sampai ia kok ngusir Anda, sebenarnya dia punya hak kok. wong itu rumah dia, dan Anda mane nylonong intervensi sudut-sudut kamarnya.
.
Loh, berarti kalo gitu, jadinya nanti kita jadi pribadi yang tertutup dong ??? Jadi pribadi yang sak karepe dewe, jadi pribadi yang gak mau masukan serta saran orang lain, jadi pribadi yang sok merasa paling benar, ujung2nya jadi pribadi non-social ?? Kan kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan ???
.
“Kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan”, YUP !, itu ketentuan TUHAN, dan hidup saling membantu, saling menguatkan, saling menolong adalah perintah TUHAN.
.
Semua ayat-ayat TUHAN dari jaman bahula, mulek ndek “hubunganmu dengan TUHAN” dan “hubunganmu dengan dunia” (dunia ya dengan sesama manusia, dengan alam sekitar dan dengan segala hal yang ada di dunia).
.
…………………………
.
Oke, before continue it, lets back to my very first statement…
.
“Saya hampir tidak pernah meminta saran atau nasihat kepada orang lain perihal apa yang harus saya lakukan, untuk aspek-aspek tertentu.”.
.
Saya bilang “hampir tidak pernah”, itu artinya saya tetap saja pernah, TAPI hanya kepada orang-orang tertentu, orang-orang yang saya anggap memang bijak, bisa berempati serta bisa melihat sesesuatunya dari berbagai perspective.
.
Dan saya bilang “untuk aspek-aspek tertentu”, itu artinya untuk aspek-aspek yang memang sangat pribadi, saya gak mau sembarangan meminta saran atau masukan kepada orang sembarang !.
.
Menjaga (nyala) hidup kita itu seperti menjaga sebuah nyala lilin dengan tanganmu itu lo.
.
Lek kamu terlalu ngrukupi nyala itu terlalu rapat dan tidak mengizinkan udara luar (oksigen) masuk, justru tindakanmu itu yang bisa membuat nyala itu mati.
.
Tapi kalo kamu membukanya lebar-lebar, nyala lilinmu bisa mati juga.
.
So….
.
Ya tetep tutupi dengan tanganmu, tapi jangan terlalu rapat dan juga jangan dibuka lebar-lebar. Kita harus bijaksana. Kita harus berhikmat.
.
Kita harus menutupinya dengan baik dan benar, memberi celah di sela-sela jari kita, agar nyala lilin kita tetap terjaga, tidak mati karena ungkep, dan juga tidak mati karena masukan-masukan yang mematikan.
.
Dan celah-celah tersebutlah akan menjadi filternya, jadi penyaringnya.
.
Kita sudah dewasa, bisa memfilter mana yang memang layak masuk dan mana yang tidak layak masuk, kaannn ???
.
Sebab tidak semua omongane orang itu “oksigen”, tapi bisa juga berupa unsur udara lain (ie CO2) yang justru bisa mematikan nyala lilin kita.
.
And human’s lil bit complicated dari sekadar lilin dan udara. Human being is unique creature. Mereka bisa menyamarkan karbondioksida seolah-olah berupa oksigen. Beberapa orang penuh tipu daya dengan kata-kata (omongan). Mereka berkata mau membuat api semangat kita menyala padahal sejatinya ingin mematikan kita. Mereka berkata sedang menumbuhkan tapi sejatinya maksud hati mereka ingin menghancurkan, atau juga mempermalukan.
.
So, be careful…
.
Tetap jaga lilinmu menyala, jok terlalu dikrukupi dan jangan terlalu dibuka lebar-lebar…
.
[to be continued…]

Silakan dishare untuk baca-baca lagi nanti atau untuk berbagi kebermanfaatan jika memang menurut Anda artikel ini bermanfaat agar kita semua bisa menjadi saluran kebaikan.

  • Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, terimakasih jika sudah mau share agar semakin bisa bermanfaat bagi semakin banyak orang. Menjadi saluran kebaikan dan kebermanfaatan tidak akan pernah merugikan kita, malah kita akan mendapatkan kebaikan darinya, dan dari Yang Memiliki Segala Kebaikan
  • Jika Anda tergerak untuk menjadi penulis atau berbagi sesuatu yang bisa bermanfaat bagi lainnya di www.parapejuang.com, silakan klik link berikut. Ingat, hal-hal kecil jika dibagikan secara tulus hati dan konsisten niscaya mampu membawa dampak besar.
  • Mari berjuang untuk ptibadi yang lebih baik, keluarga yang lebih baik, masyarakat yang lebih baik dan bangsa yang lebih baik.

 
About Writer :

Hanya ingin menjadi anak yang baik, calon suami (dan ayah) yang baik dan hamba yang baik. Sebab, peran kita di dunia ini minimal melingkupi 3 hal diatas : peran sebagai seorang anak, peran sebagai seorang suami (dan ayah) dan peran sebagai seorang hamba.

Tagged on : #ayoberjuang #for_a_sweeter_family #for_to_be_a_better_men #untuk_menjadi_calon_imam_yang_baik


Browse Another Article at : #SpiritualDevelopment | #PersonalDevelopment | #FamilyDevelopment

 
Article Tags:
Article Categories:
Para Pejuang Iman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!