banner

AYO LEBIH BERFOKUS PADA “KEMANA KITA MENUJU”, BUKAN “DARIMANA KITA BERASAL” [Part 2]

Written by

TUHAN tidak pernah melihat apakah kamu pernah memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan agama formal atau tidak..
.
TUHAN tidak pernah melihat apakah kamu pernah belajar hingga ke luar negeri dan mendapatkan gelar berentetan, atau mendapatkan beasiswa untuk pergi ke universitas bonafid yang menjadi kebanggaan manusia atau tidak..
.
TUHAN tidak pernah melihat apakah kamu pernah memiliki kesempatan untuk sekolah akademik atau pernah belajar di kampus terkemuka atau tidak..
.
TUHAN tidak pernah melihat apakah kamu, oleh karena orangtuamu, punya kesempatan pernah difasilitasi pendidikan karakter or pendidikan etika secara eksklusive atau tidak..
.
TUHAN tidak pernah melihat apakah kamu memiliki kesempatan memiliki keluarga yang indah atau tidak..
.
Tapi TUHAN melihat kesungguhan hatimu..
.
DIA melihat tekadmu untuk hidup tunduk dan taat kepadaNYA..
.
DIA melihat bagaimana sikapmu dalam menjalani kehidupan yang sudah diberikanNYA..
.
DIA melihat bagaimana dirimu menjaga hubunganmu denganNYA, dan juga dengan sesama..
.
DIA melihat kesabaran, kelembutan, ketekunan dan buah-buah hatimu..
.
Dan untuk memiliki kesungguhan hati, tekad untuk tunduk dan taat, sikap yang baik, kesabaran, kelemahlembutan serta berusaha dengan segenap hati mencintaiNYA dan berlaku adil, baik dan benar bagi sesama, nampaknya tidak harus menempuh “pendidikan agama” formal, tidak perlu harus belajar keluar negeri dan mendapatkan gelar berentetan, tidak perlu pergi ke universitas-universitas bonafid, entah dengan beasiswa entah dengan sokongan orang tua, tidak perlu harus mengenyam sekolah akademik atau pernah belajar di kampus terkemuka, tidak perlu datang dari orang tua yang terpandang dari masyarakat dimana dia ada, tidak perlu berasal dari keluarga yang harmonis dan ideal seperti idaman semuanya..
.
Sebab jika demikian halnya, betapa tidak adilnya DIA..
.
Karena, setiap anak datang dari keluarga yang berbeda-beda, latar belakang sosial yang berbeda, kondisi ekonomi yang berbeda, keadaan keharmonisan keluara yang berbeda, dan lain sebagianya..
.
Disaat ada anak yang lainnya bisa belajar di universitas bonafid oleh karena sokongan orang tua, ada anak lain yang justru harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya..
.
Disaat ada anak yang lainnya, oleh karena jaringan (entah jaringannya atau jaringan orang tuanya) dan kesempatan, bisa mendapatkan beasiswa dan mendapatkan pendidikan di luar negeri dengan enaknya (entah pendidikan agama maupun pendidikan lainnya), ada anak lain yang mau kuliah di kota sendiri saja gak bisa..
.
Disaat ada anak lain yang disupport orang tua mereka sehingga bisa mendapatkan pendidikan, entah pendidikan agama, entah pendidikan etika, entah pendidikan karakter, entah pendidikan bahasa (bahasa asing), entah pendidikan akademik atau lainnya, ada anak lain yang justru karakternya dimatikan oleh orangtuanya sendiri (tidak sedikit orang tua yang justru membunuh karakter anak, entah sadar atau tidak)..
.
Disaat ada anak lain yang oleh karena kelebihan-kelebihan serta jaringan yang dimiliki orangtuanya, bisa merasakan fasilitas sehingga tidak harus menjalani keadaan yang susah tanpa harus berusaha, ada anak lain yang harus berusaha keras untuk menyediakan fasilitas bagi dirinya sendiri..
.
Itulah..
.
Betapa tidak adilnya DIA jika melihat seseorang lulusan kampus mana, sudah pernah sekolah agama dimana saja, apakah dia lulusan luar negeri atau sekolah sampe SMA saja gak bisa, dan lain sebagainya untuk menentukan kelayakan dan “kemuliaan” manusia..
.
Manusia memang terkadang melihat seseorang dari parameter itu semua, tapi TUHAN tidak demikian halnya..
.
Manusia menganggap orang yang pernah begini pasti begini, dan orang yang tidak punya kesempatan begitu pasti begitu, sedangkan TUHAN melihat hati..
.
Dan keteguhan dan kesungguhan hati bisa dimiliki setiap pribadi tanpa kamu harus memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan formal disana sini..
.
Dan malah, ada orang yang diberi kesempatan (untuk karena sokongan orang tuanya atau lainnya) untuk mengenyam pendidikan tinggi, akhirnya dipenuhi kesombongan dan merasa mulia hati, serta merasa paling benar sendiri dan merasa berhak “menghakimi”..
.
Sekali lagi, ayo terus berteguh hati untuk terus mencintai DIA yang tidak memandang rupa, tapi yang mengetahui seluk beluk tentang perjalanan hidup manusia..
.
[..still to be continued..] .
Anwar Bastomi | @anwarbastomi.thefighter | @anwarbastomispirit | @anwar_technopreneur
Tagged on : #ayoberjuang #for_becoming_a_better_fighter

Silakan dishare untuk baca-baca lagi nanti atau untuk berbagi kebermanfaatan jika memang menurut Anda artikel ini bermanfaat agar kita semua bisa menjadi saluran kebaikan.

  • Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, terimakasih jika sudah mau share agar semakin bisa bermanfaat bagi semakin banyak orang. Menjadi saluran kebaikan dan kebermanfaatan tidak akan pernah merugikan kita, malah kita akan mendapatkan kebaikan darinya, dan dari Yang Memiliki Segala Kebaikan
  • Jika Anda tergerak untuk menjadi penulis atau berbagi sesuatu yang bisa bermanfaat bagi lainnya di www.parapejuang.com, silakan klik link berikut. Ingat, hal-hal kecil jika dibagikan secara tulus hati dan konsisten niscaya mampu membawa dampak besar.
  • Mari berjuang untuk ptibadi yang lebih baik, keluarga yang lebih baik, masyarakat yang lebih baik dan bangsa yang lebih baik.

 
About Writer :

Hanya ingin menjadi anak yang baik, calon suami (dan ayah) yang baik dan hamba yang baik. Sebab, peran kita di dunia ini minimal melingkupi 3 hal diatas : peran sebagai seorang anak, peran sebagai seorang suami (dan ayah) dan peran sebagai seorang hamba.

Tagged on : #ayoberjuang #for_a_sweeter_family #for_to_be_a_better_men #untuk_menjadi_calon_imam_yang_baik


Browse Another Article at : #SpiritualDevelopment | #PersonalDevelopment | #FamilyDevelopment

 
Article Categories:
Para Pejuang Iman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!