Para Pejuang, Ayo Bergerak…

Anda tahu berapa lulusan S1 yang dihasilkan universitas setiap tahunnya ?

Anggap saja dalam satu tahun, ada 1000 lulusan sarjana baru yang berasal dari semua fakultas / jurusan pada 1 universitas.

Dan anggap saja total ada 10 universitas. Berarti ada sekitar 10.000 lulusan baru disetiap tahunnya.

ITU kalau ada 1000 lulusan atau wisudawan baru, dan hanya ada 10 universitas saja (tidak termasuk swasta).

Tapi apakah memang benar setiap tahunnya ada 1000 lulusan baru ?

Apakah benar total hanya ada 10 universitas saja ?

Apakah benar universitas itu negeri semua  dan tidak ada yang swasta ?

Belum termasuk institut, politeknik dan juga sekolah tingginya..

Itulah persaingan kita saat ini !.
.
…………………………………….
.
Dan btw itu hanya S1 saja dan tidak termasuk S2 ya..

Juga kita mengexclude lulusan-lulusan tahun sebelumnya dan tahun sebelumnya lagi yang masih juga belum dapat kerja yang praktis juga ikut dalam kompetensi persaingan ini,

Juga kita belum memasukkan lulusan SMA / SMK yang “mau” digaji lebih rendah daripada lulusan S1 tersebut,

Dan btw, kalau saya owner sebuah perusahaan, saya akan lebih memilih lulusan SMK dengan gaji lebih rendah asal dia mampu mengerjakan jobdescnya, daripada lulusan S1 yang hanya tahu teorinya saja dan belum tentu juga capable jika saya taruh praktek langsung di dunia industri atau dunia kerja..
.
…………………………………….
.
Itulah kenapa bukan rahasia lagi kalau banyak lulusan sarjana yang akhirnya nganggur atau kerja apa adanya (menjadi pramuniaga restaurant cepat saji, gojek, dll)..

Tentu itu bukanlah pekerjaan yang buruk, sangat amat baik dibandingkan Anda mencuri uang rakyat disaat ada begitu banyak rakyat yang kelaparan dan tidak tahu harus bagaimana, juga sangat lebih baik daripada Anda makan gaji buta (tidak semua PNS suka makan gaji buta ya..tapi yang suka makan gaji buta juga ada..), atau Anda mencuri atau hal-hal yang tidak baik lainnya..

Selama itu halal, why not ?

Tapi, jika ada potensi yang lebih baik yang bisa Anda dapatkan, berusahalah untuk mendapatkan yang lebih baik itu, agar kita bisa meningkatkan kualitas diri dan kualitas hidup serta bisa lebih berdampak bagi keluarga, dan semoga bagi masyarakat dimana kita berada,
.
…………………………………….
.
Karena itu, opsinya ada dua :

Pertama, Anda sangat serius dan bertanggung jawab terhadap pendidikan Anda serta tidak main-main agar Anda bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dan layak sehingga Anda bisa mencukupi nafkah keluarga yang secara layak..

ATAU,

Kedua, Anda belajar skill “non-bangku sekolah” serta belajar bisnis dan Anda menciptakan dan bertanggung-jawab terhadap pekerjaan Anda sendiri, syukur-syukur jika Anda juga bisa menciptakan pekerjaan untuk orang lain..

Tentunya poin yang kedua ini bisa dilakukan oleh semua orang, baik Anda lulusan sarjana, lulusan SMA atau SMK bahkan jika Anda tidak memiliki kesempatan mengenyam bangku sekolah sekalipun..

Tidak semua orang memang memiliki kesempatan untuk mendapatkan dan merasakan bangku sekolah, tapi semua orang memiliki kesempatan yang sama serta mereka memiliki potensi untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan indah..

Namun, meskipun Anda memilih jalur kedua ini dan Anda juga memiliki kesempatan untuk merasakan serta mendapatkan pengalaman bangku sekolah, bukan bearti Anda boleh untuk tidak serius dan tidak bertanggung-jawab terhadap pendidikan Anda,

Alih-alih demikian, gunakan pendidikan Anda sebagai salah satu pendongkrak Anda, misalnya melalui jaringan yang Anda peroleh di bangku sekolah atau bangku kuliah..
.
…………………………………….
.
Tapi, mengingat begitu besar dan banyaknya persaingan yang ada sekarang, mempelajari skill dan juga bisnis sehingga suatu saat Anda bisa mandiri adalah langkah yang bijak untuk diambil.

Pelajarilah skill dan juga pengetahuan yang bisa Anda jual pada perusahaan (menjadi karyawan), maupun bisa Anda jual sendiri secara mandiri (menjadi pengusaha).

Dan pelajarilah skill dan pengetahuan tersebut sedini mungkin.

Ingat, tidak semua skill bersifat “Double-Benefit”.

Double benefit disini maksudnya “bisa Anda jual pada perusahaan” dan “bisa Anda juga sendiri”.

Contoh skill yang bisa Anda jual kepada perusahaan dan bisa Anda jual sendiri contohnya skill di bidang rancang bangun website, skill di bidang digital marketing, skill perbaikan komputer atau laptop, skill reparasi motor atau mobil, skill perbaikan AC dan lain sebagainya.

Dengan memiliki skill-skill tersebut, kalaupun Anda tidak mau ikut orang dengan menjadi karyawan, Anda bisa menjualnya sendiri dengan menjadi bisnisman.

Jadi, tidak ada salahnya memiliki skill-skill yang bersifat “Double Benefit” tersebut.
.
…………………………………….
.
Hal lain yang tidak boleh Anda abaikan adalah : Dunia sudah berubah !

20 tahun lalu, jika Anda lulusan SMA atau SMK, Anda termasuk “orang-orang istimewa” karena belum banyak yang memiliki kesempatan untuk merasakan pendidikan hingga ke jenjang tersebut. Dengan “hanya” memiliki ijazah SMA atau SMK, Anda masih bisa survive dan memenangkan kompetensi.

Tapi 10 tahun lalu, lulusan SMA dan SMK sudah menjadi hal yang biasa, karena memang sudah banyak yang bisa merasakan bangku sekolah hingga SMA atau SMK.

Sesuatu itu menjadi biasa karena memang sudah terlalu banyak jumlahnya. Lulusan SMA atau SMK bukan sesuatu yang istimewa. Menemui anak lulusan SMK atau SMK bukanlah sesuatu yang langka.

Pun demikian halnya untuk S1 sekarang..

10 tahun yang lalu, jika Anda lulusan S1, mungkin Anda termasuk orang-orang yang istimewa dan langka. Sebab memang tidak banyak orang yang bisa menempuh pendidikan hingga ke jenjang itu.

Dengan memiliki ijazah S1, Anda memang memiliki kesempatan terbuka lebar untuk diterima di perusahaan-perusahaan, di pemerintahan sebagai PNS atau lain sebagainya.

Sebab, persaiangan Anda pada waktu itu tidak sebesar sekarang. Mungkin Anda salah satu dari 1000 orang yang berijazah S1. Kesempatan dan potensi Anda masih besar. I mean, tidak banyak yang memiliki ijazah S1 seperti Anda.

Tapi bagaimana dengan sekarang ?

Apakah lulusan S1 adalah sesuatu yang “istimewa” dan langka ?

Sekarang, mungkin Anda salah satu dari 10.000 atau bahkan 100,000 orang yang berijazah S1 lainnya.

Ingat, dalam hal-hal tertentu, prosentase potensi selalu berbanding terbalik dengan jumlah pemain yang ikut berkompetensi.

Jika pemainnya 1000, Anda mungkin masih bisa memenangkan persaingan dengan mudah. Tapi bagaimana jika pemainnya 10.000, atau 100.000, atau 500.000 ?
.
…………………………………….
.
Sekali lagi, dunia sudah berubah..

Pemerintahan sudah berubah, presiden sudah berubah, kebijakan negara sudah berubah, jumlah universitas sudah berubah, keadaan masyarakat sudah berubah dan banyak hal sudah berubah..

Jangan menilai keadaan masyarakat, keadaan ekonomi, dan pemetaan masa depan saat ini dengan mengacu keadaan yang ada di 10 atau 20 tahun lalu.,
.
…………………………………….
.
Sekali lagi,ayo bijak dalam bertindak dan merencakan masa depan agar kita bisa menjadi pemenang yang bisa semakin berdampak bagi keluarga, syukur-syukur berdampak pada semakin banyak orang..

Klik disini untuk explore artikel-artikel dan sharing-sharing tentang Bisnis, Digital Marketing, Sales Funnel, Copywriting, Landingpage dan juga Website..

 

Anwar Bastomi | fb : @anwarbastomi.thefighter | insta : @anwar_technopreneur

error: Content is protected !!